Minggu, 15 September 2013

HARUYAN tentang PELEBARAN JALAN



Haruyan sekarang menunjukan perubahan, terutama dari segi pembangunan, pasar senin di bikin kembali, ada perpustakaan percontohan, kantor kecamatan pun sudah baru serta jalan yang diperluas dari sebagian desa andang sampai simpang 3 pasar mu’ui (pengambau hulu).

Haruyan adalah desa yang maju, tapi mengapa kebanyakan masyarakatnya tidak berfikiran maju, bukan cuma haruyan yang penulis sebut disini, tapi desa-desa di kecamatan haruyan.  Sebagai contoh saja seperti perluasan jalan saja banyak pro dan kontra yang terjadi di masyarakat, jalan diperluas tapi Cuma sebagian saja, ada beberapa desa yang berada di muara yang tidak bisa diperluas jalan akses menuju kecamatan haruyan, tidak usah saya sebutkan nama desa tersebut, yang jelas ini akan menjadi perdebatan yang panjang.

Entah apa yang mereka fikirkan tentang jangka panjangnya jika akses jalan menuju kecamatan begitu nyaman karena luas jalan seperti kecamatan-kecamatan lain di kabupaten hulu sungai tengah.  Memang, haruyang adalah kecamatan yang terkenal jalannya paling kecil diseluruh kecamatan yang ada di HST.  Selayaknya masyarakat bersyukur karena ada pelebaran jalan di wilayah haruyan, tetapi dalam kenyataannya, sebagian desa tidak mendukung adanya perubahan pembangunan pemerintah ini, mengapa saya sebut tidak mendukung? Karena jika mereka mendukung pastilah mereka mengijinkan dan merelakan sebagian tanah mereka untuk dijadikan jalan akses menuju haruyan. Haruyan bukan milik sebagian kelompok masyarakat saja, jika haruyan maju pastilah yang menikmati kemajuan itu bukan orang lain atau kecamatan lain, tetapi masyarakat di kecamatan haruyan itu sendiri.

Jika jalan menjadi luas apa yang terjadi?
  1. Kita mempunyai tempat wisata loklaga, jalan yang luas akan memudahkan para pengunjung yang datang ketempat tersebut, apalagi pas hari raya/lebaran, jalan kecil kita ini sangat padat dan jika sudah luas pastilah nyaman untuk semua pengunjung.
  2. Jika jalan sudah lebar kesempatan untuk buka usaha pastilah ada perubahan tidak seperti waktu jalan masih kecil.  Karena orang-orang akan banyak melintasi jalan kita yang lebar ini.

Mungkin cukup dua poin  itu saja sebagai pertimbangan saya dalam menulis artikel tentang pembangunan jalan ini.

Kabar tentang pelebaran jalan yang banyak ditentang sebagian masyarakat ini memang masih simpang siur, why? Karena saya sebagai penulis juga dapat dari kabar orang lain atau dari mulut-kemulut.  Boleh dibilang apa yang saya tulis disini masih tidak akurat.

Penyebab sebagian masyarakat di sebagian desa yang menolak adanya pelebaran jalan antara lain:
  1. Tidak adanya ganti rugi.
  2. Jika ada ganti rugi dari pemerintah, maka ganti rugi itu dianggap terlalu kecil.
  3. Sebagian rumah memang tidak bisa lagi untuk digusur atau dimundur ke belakang karena ada desa yang sangat padat penduduknya sampai ke dalam gang, dan disatu sisi lain tidak bisa membangun secara mundur karena di belakang rumah mereka terdapat sungai.

Untuk poin “c” di atas memang sangat dimaklumi dan memang kenyataannya begitu adanya. Sebagian masyarakat sudah terlanjur membuat rumah sangat dekat dengan jalan, bukan saja rumah tetapi juga warung dan kios-kios mereka.  Untuk poin “a” dan “b” di atas, saya sangat yakin itu sangatlah benar, sesuai kenyataan dan tabiat masyakat sini, harus GANTI RUGI.

Bagi saya, pelebaran jalan tidak jadi masalah, karena halaman rumah kami luas..Its Oke!. Tidak diganti rugi juga tidak apa-apa, karena saya berfikir untuk masa yang akan datang, jika jalan lebar, maka usaha akan tambah maju.

Semua tulisan ini tidak bermaksud menyudutkan pihak manapun, atau juga mendukung sepenuhnya apa yang dilakukan pemerintah, jika terdapat kekurangan mohon maklum dan jika ada saran dan kritik yang perlu ditambahkan silahkan anda isi kolom komentar:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan sopan